Tips Manajemen Waktu Belajar Anak Berdasar Kuadran Prioritas


kuadran prioritas
0
Categories : Parenting

Situasi pandemi yang menyebabkan anak-anak harus belajar di rumah, ternyata menimbulkan beberapa permasalahan bagi sebagian besar orang tua. Sebab  mau tidak mau merekalah yang berperan penting dalam mengatur proses pembelajaran di rumah.

Berbagai masalah yang timbul di antaranya adalah orang tua yang tidak memiliki waktu karena sibuk bekerja, fasilitas online baik perangkat maupun jaringan, materi pelajaran yang tidak dikuasai, dan tugas-tugas sekolah untuk anak-anak yang harus diselesaikan.

Berkaitan dengan itu semua orang tua harus mengatur segala sesuatunya agar anak mampu melaksanakan tugas belajarnya. Kesibukan bekerja, fasilitas online dan materi pelajaran sedikit banyak sudah identifikasi oleh sekolah. Sehingga jam belajar diberikan kelonggaran. Fasilitas perangkat juga bisa bergantian. Termasuk materi juga sudah disediakan video pembelajaran berikut rangkuman materi.

Oleh karena itu, yang terpenting adalah peran orang tua dalam manajemen waktu belajar anak supaya efektif. Karena kegiatan belajar di rumah ini fasilitas utamanya adalah penggunan media gadget yang memiliki dua sisi, positif dan negatif. Sehingga kalau orang tua tidak mengatur waktu belajar anak, maka waktu yang tersedia sepanjang hari justru akan menjadi tidak efektif.

Dan akibat yang terjadi jika waktu belajar tidak diatur dengan baik adalah tugas-tugas belajar tidak terselesaikan dengan baik. Anak-anak bisa jadi lebih cenderung belajar dan mengerjakan tugas dengan slogan “yang penting mengerjakan“. Dan selanjutnya bersegera untuk bermain handphone lagi. Atau juga mereka menunda-nunda belajar sampai dengan waktu habis. Ujungnya tugas menumpuk, dan akhirnya anak mengalami stress.

Kuadran Prioritas Waktu Belajar Anak

Di sini orang tua sebaiknya memahami kuadran prioritas untuk membantu anak mengatur waktu belajarnya. Sebab tanpa bantuan orang tua anak masih mengalami kesulitan untuk mengendalikan diri dan mengatur waktunya supaya efektif dan bermakna dalam menjalankan tugas belajar di rumah.

Kuadran prioritas ini berdasarkan teori yang dikemukakan oleh seorang psikolog dan penulis buku terkenal bernama Steven Covey. Ia mengembangkan prinsip “penting/mendesak” yang pernah dikemukakan oleh Eisenhower Dwight. Sehingga memunculkan metode “self-help” untuk manajemen waktu dan kegiatan, yang dikenal sebagai “kuadran empat prioritas”.

Kuadran 1 – Penting dan Mendesak

Kuadran satu ini berada pada kondisi mendesak dan penting yang harus diselesaikan. Dan ini biasanya berkaitan dengan deadline tugas yang harus segera diselesaikan. Seberapa penting dan mendesaknya kondisi ini tergantung pada seberapa besar peran dan akibatnya untuk kita. Dan kebanyakan kondisi ini diselesaikan dengan manajemen krisis atau manajemen kepepet. Tentu hasilnya bisa jadi tidak se-optimal jika dikerjakan dengan waktu yang proporsional.

Sebagai contoh, ketika kita menunda-nunda waktu untuk mengerjakan sholat lima waktu sampai dengan hampir habis waktunya. Maka yang terjadi adalah kita akan melakukan wudhu dengan tergesa-gesa, terkadang diambil rukunnya saja, pakaian yang dikenakan pun juga yang penting menutup aurat saja, dan ketika sholat masih dengan nafas yang tersengal-sengal, masih ditambah bacaan hanya sebatas rukunnya saja.

Berbeda dengan jika kita merencanakan ketika hendak masuk waktu sholat, kegiatan sudah mulai kita kurangi. Sehingga saat memasuki waktu sholat, kita bisa berwudhu dengan tenang, bersih, sunnah-sunnah wudhu dikerjakan. Bahkan kita juga masih sempat untuk ganti baju yang bersih atau busana muslim, selanjutnya masih bisa mengerjakan sholat sunnah qobliyah. Sholat dikerjakan dengan berjamaah, khusyu’ dan tuma’ninah.

Dengan contoh di atas bapak/ibu orang tua tentu bisa membayangkannya. Sehingga bisa memahami jika anak-anak terbiasa dengan kondisi penting mendesak ini terus-terusan karena waktu yang disia-siakan karena tidak direncanakan, maka kualitas belajar anak-anak kita akan berada di posisi krisis atau tidak maksimal.

Kuadran 2 – Penting Tapi Tidak Mendesak

Kuadran dua ini berisi kegiatan yang penting tetapi tidak terlalu mendesak. Kondisi ini tidak sampai menekan seperti kuadran satu. Sehingga masih ada waktu bahkan juga jangka panjang untuk mempersiapkan dengan perencanaan yang matang. Sehingga hasil yang akan dicapai lebih optimal dari pada kita menempatkan diri di kuadran satu.

Sebagai contoh ilustrasi kita dalam melaksanakan sholat lima waktu di atas. Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita berusaha agar anak-anak kita ini tidak terbiasa berada di kuadran satu. Silakan bapak/ibu membantu anak-anak untuk membuat perencanaan mengenai kapan waktu belajar mereka. Dan ketika belajar waktu yang digunakan benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Sehingga materi bisa dipelajari tanpa terburu-buru dan tugas-tugas bisa diselesaikan tepat waktu serta hasilnya optimal.

Dalam sebuah penelitian, anak-anak yang dibiasakan berada di kuadran dua oleh orang tuanya, lebih percaya diri dalam menyelesaikan pekerjaan dan tidak pernah mengalami stress. Mereka selalu merasa tenang dan bahagia karena tidak ada situasi yang selalu menekan mereka.

Anak-anak di kuadran dua ini juga lebih disiplin dalam segala hal. Sehingga setiap kali menginginkan sesuatu mereka tidak mengalami masalah dalam hal merencanakan sampai dengan tercapai tujuannya.

Kegiatan lain yang bisa dimasukkan dalam kuadran ini adalah meningkatkan kemampuan (skill) tertentu, meningkatkan prestasi dan juga penanaman karakter pada anak. Buat kesepakatan, rencanakan bersama-sama, buat jadwal serta dampingi.

Kuadran 3 Mendesak Tapi Tidak Penting

Kuadran tiga ini berisi hal-hal yang menyita/merampas perhatian kita padahal sebenarnya tidak penting tapi mendesak. Maka menghindari kondisi kuadran tiga ini sebaiknya diminimalisir atau dikurangi bahkan dihindari.

Contoh kegiatan di kuadran tiga ini adalah ketika anak-anak kita sedang belajar, membaca atau melakukan kegiatan positif lainnya, tiba-tiba handphone-nya berdering atau berbunyi notifikasi pesan masuk yang isinya ternyata tidak penting. Bisa jadi ada teman mengajak chatting, bergurau, atau membicarakan hal-hal tidak penting.

Sehingga yang terjadi adalah ketika anak-anak kita sedang konsentrasi, sebentar-sebentar handphonenya berbunyi. Dan anak merasa hal itu menjadi mendesak untuk mengangkat telepon atau membalas chat dari temannya. Padahal tidak penting. Sehingga kegiatan positifnya justru terganggu dan bisa-bisa hasilnya tidak optimal.

Oleh sebab itu, orang tua harus mengkomunikasian hal tersebut dengan anak-anak. Sebab anak-anak yang berada di kuadran tiga ini jika dibiasakan maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah dikendalikan oleh orang lain. Berikan pengertian dan jelaskan dampak positif – negatifnya.

Kuadran 4 – Tidak Penting dan Tidak Mendesak

Kuadran empat ini berisi hal-hal yang tidak penting dan tidak mendesak. Oleh karena itu, berada di kuadran ini sebaiknya diminimalisir dan bahkan dihindari apalagi di saat akan kegiatan atau tanggung jawab  lain yang bermanfaat dan harus dilaksanakan.

Berada di kuadran empat ini sesaat memang terkesan sangat membahagiakan anak-anak. Namun jika terbiasa berada di kuadran ini maka anak-anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak disiplin, malas dan sulit berprestasi baik akademik, non-akademik maupun karakter.

Contoh kegiatan di kuadran empat ini adalah menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian hanya untuk ngobrol/chatting dengan teman dengan tema rumpi. scrolling medsos, nonton film-film yang sebenarnya bukan untuk seusianya, bermain game online dan sebagainya.

Jika kegiatan tersebut dilakukan pada waktu yang benar-benar luang / refreshing dan tidak terus menerus mungkin tidak terlalu berdampak. Tapi kalau sudah dilakukan setiap hari bahkan berbulan-bulan dan bertahun-tahun, maka yang terjadi adalah waktu mereka sia-sia dan pembelajaran yang ditempuh tidak akan membuahkan hasil. Kegagalan adalah ujung dari kuadran empat yang dibiasakan.

Nah, bapak/ibu orang tua saatnya bagi kita untuk memulai sebuah kebiasaan baru yang mungkin agak sulit. Tetapi jika sudah terbiasa, maka mafaatnya akan sangat besar sekali bagi kita. Prinsip utamanya adalah jangan malas ! Karena anak-anak kita adalah inventasi di dunia dan akhirat. Di tengah kesibukan orang tua mencari nafkah, jangan sampai kecolongan dengan membiarkan anak-anak berada di kuadran yang merugikan. Terima kasih, semoga bermanfaat.

2.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x